Memecah rindu dalam gelimangan air suci yang menetes dari
kelopak mata.
Kemuraman hati atas kedukaan yang terkabarkan olehmu,
Membawaku lari dari kerumunan sepi di hatiku.
Do’a serta harapan bersatu untuk cinta suci.
Saat
matahari tenggelam, aku masih terdiam dalam keresahan yang merajai
hatiku.keresahan atas kejujuran dan kenyataan. Aku teringat kembali memori hari
beberapa saat yang lalu ketika mas Anam mengatakan sesuatu yang mengagetkanku
dalam telepon.
“Sarah,
maafkan mas. Maafkan karena aku harus mengatakan rahasia yang selama ini aku
simpan darimu. Sebuah kenyataan yang mungkin akan membuatmu sedih,” suaranya
yang serak mengejutkanku karena tidak biasanya dia berkata serius seperti itu.
“Kenapa,
Mas? Rahasia apa?”
“Sarah,
jika mas divonis dokter umurku tidak panjang lagi hanya sampai 30an, apakah
kamu mau tetap setia menemaniku sampai akhir hayatku? Apa kamu mau menemaniku
dan menjagaku di saat terapuh dalam hidupku?”
“Maksud
Mas? Kenapa Mas menanyakan hal itu?” tanyaku dengan terkejut mendengar apa yang
dikatakannya.
Sejenak
dia terdiam. Kudengar suaranya yang serak karena sakit menjadi lirih. Yang
terdengar hanya isak tangis yang berusaha disembunyikan. Kucoba untuk
menanyakan kembali tentang kejelasan dari perkataannya.
“Sayang,
kenapa? Cerita sama Sarah, donk…! Ada apa dengan Mas?”
“Sarah,
sebenarnya Mas punya masalah dengan organ dalam Mas. Sarah tahu, kan tentang
penyakit flu Mas yang belum sembuh sampai saat ini? Sebenarnya ini sudah Mas alami sejak masih di
bangku SMA. Waktu itu Mas periksakan ke dokter di Ambarawa. Dokter bilang ada
sesuatu di paru-paruku sehingga Mas sering mengalami kesulitan pernapasan dan penyakit
flu yang menahun. Saat itu dokter bilang Mas harus segera dioperasi. Kata
dokter umur Mas tidak akan bisa lama, hanya sampai umur 30an. Saat itu Mas
bingung dan kacau. Mas memutuskan tidak akan mangatakan hal ini pada siapapun.
Mas ga mau merepotkan orang lain meskipun dengan keluarga sendiri.”