Jauh di sudut kamar
Terdengar samar denting jam yang berdetak
Kuasah kembali pena-pena ini
Menari-nari bersama angin bagaikan manusia yang sedang kasmaran
Mengantarkan sebuah kerinduan dari Sang Pujaan
Malam terasa damai nan sunyi
Dengan tiupan angin yang lembut
Membawakan nada-nada indah
Dengan bisikan-bisikan kisah cinta yang sempurna
Entah mengapa nyanyian malam begitu syahdu terdengar
Bahkan suara jangkrik pun menjadi penyempurna
Alunan-alunan simponi yang indah
Berpadu dengan kicauan burung dalam keheningan
Terasa mistis memang
Tapi mereka adalah pengikut malam
Yang akan selalu menghiasi malam
Dengan nada-nada syahdu yang damai nan merdu.
Kudus, 7 April 2013
FS
Ikutilah terus kemana arah tanganmu akan bergerak, maka kau akan temukan mimpi-mimpi dan imajinasimu dalam suatu karya yang indah dan tak akan pernah musnah. KEEP YOUR HAND MOVING......
Sabtu, 06 April 2013
Tarian Jemari di Senja Hari
Kubiarkan jari jemari ini menari-nari
Mengukir kata sepi dalam hati
Bukan cinta, bukan rindu, bukan pula iri
Namun kekecewaan yang menggeluti diri
dan terpasung oleh senja di sore hari
Ada hal yang tak perlu diungkapkan
Tapi cukuplah hal itu hanya dimengerti
Namun semua itu sirna oleh dekapan malam
Menjadi sebuah harap dan sekadar mimpi
Akhirnya, bulan pun jatuh
Menuju kolam harapan yang teramat dalam
Hingga tak terlihat lagi pantulan cahayanya
Cukuplah jari-jari ini yang bersuara
Dan mencari pantulan cahaya bulan yang tlah tenggelam
Dan kini biarkan aku diam membisu
Bersama angin senja yang mulai mencumbuku
Kudus, 6 April 2013
FS
Mengukir kata sepi dalam hati
Bukan cinta, bukan rindu, bukan pula iri
Namun kekecewaan yang menggeluti diri
dan terpasung oleh senja di sore hari
Ada hal yang tak perlu diungkapkan
Tapi cukuplah hal itu hanya dimengerti
Namun semua itu sirna oleh dekapan malam
Menjadi sebuah harap dan sekadar mimpi
Akhirnya, bulan pun jatuh
Menuju kolam harapan yang teramat dalam
Hingga tak terlihat lagi pantulan cahayanya
Cukuplah jari-jari ini yang bersuara
Dan mencari pantulan cahaya bulan yang tlah tenggelam
Dan kini biarkan aku diam membisu
Bersama angin senja yang mulai mencumbuku
Kudus, 6 April 2013
FS
Panggung Sekolah
Sebuah Lakon Remaja Berjudul "Panggung Sekolah" ini dipentaskan oleh Siswa-Siswi MA NU Tamrinut Thullab pada Acara Akhir Tahun Ajaran 2011-2012
Para Pemain
Sari Siswa
Rumi Siswa
Mak Dum Penjual di warung
Teguh Siswa
Dani Siswa
Edi Siswa
Pemain Figuran (tampil
sesekali)
Figuran 1 Siswa
BAGIAN 1
TERAS SEKOLAH. PAGI MENJELANG SIANG. PANGGUNG DI TATA LAYAKNYA TERAS, HANYA ADA SATU BANGKU DI DEKAT PINTU. SEDANGKAN DI SEBERANG ADA BEBERAPA SISWA YANG
NONGKRONG DI WARUNG.
BACKSOUND : DARI DALAM KELAS TERDENGAR SORAK-SORAI GEMBIRA. PARA SISWA LAIN MENYANYI SAMBIL MEMUKUL-MUKUL MEJA.
Wo wo wo…
Ayo muleh....ayo
muleh....wetengku wes ngeleh...
Ya ya ya…
Ayo kita pulang....ayo kita pulang....
Ya ya ya yuhu...
(seorang
pemain memasuki panggung sambil ngomel-ngomel sendiri dengan terlihat kesal)
Aku Rasa Menulis adalah Obatku
Bermain dengan kata-kata membuatku terasa menikmati indahnya dunia. Seperti tak ada duka yang selalu membayang-bayangi diri. Bebas, lepas, aku menumpahkan segala keluh kesah dan kegundahan yang membayangi. Jari jemari tanganku menari-nari seolah tak mau berhenti mengungkapkan segala isi hati ini. Cinta, rindu, sakit hati, dendam, gundah, semua terungkap menjadi satu. Entah apa nama tulisanku, yang jelas aku merasa bebas mengukir kata. Inilah pengobat lara, inilah pengobat rindu, inilah pengobat kebosanan yang menyamar dalam bentuk kegalauan hati. Bukan galau karena cinta, bukan pula galau karena rindu. Tetapi lebih tepatnya ini adalah rasa bosan yang menyamar dalam segala bentuk keresahan dan kegundahan hati.
Kudus, 6 April 2013
Kudus, 6 April 2013
Rabu, 27 Maret 2013
Resah Rusuh
Resah
Rusuh
Pemain
:
Ahmad Retno
Bupati Bu Suti
Mbok Iyem Parmin
Pak Parno Pedagang
mie ayam keliling
Babak I
Panggung
diatur persis seperti di ruang dalam pendopo Kabupaten yang di dalamnya terdapat kursi malas dan
meja marmer bundar. Di atasnya terdapat lampu terang yang menjadi penerang.
Karena ruang dalam ini sangat gelap dari pencahayaan luar. Tembok pemisah ruang
dalam dengan ruang tamu dipajang ukiran-ukiran indah yang terbuat dari kayu.
Ukiran-ukiran itu memperindah tembok ruang dalam tersebut.
Adegan 1
Pagi
hari ketika banyak orang mulai beraktivitas di pendopo, mbk Iyem seang
membersihkan ruang dalam sambil menembangkan tembang kinanthi yang sangat
disukainya. Dia menyapu lantai dan membersihkan kursi malas kesukaan
majikannya. Ketika sedang asik-asiknya mendendangkan tembang kinanthi, datang
pak Parno tukang kebun di pendopo.
Pak
Parno : (dengan langkah yang pelan
langsung masuk ruang dalam dan mengagetkan mbok Iyem)
Sedang apa, Mbok?
Mbok Iyem : (terkejut dan spontan menjatuhkan sapu
yang sedang dia pegang)
Waduh, Parno… Kamu ini
ngagetin saja.
Pak
Parno : Maaf, Mbok. Saya tidak
sengaja ngegetin mbok Iyem. Saya Cuma tanya mbok sedang apa.
Mbok Iyem : Lha, kamu lihat mbok
ini sedang apa? Mbok sedang nyapu lantai, tho?
Pak Parno : Iya, Mbok… Saya sedang bingung, Mbok.
Mbok Iyem : Bingung kenapa?
Pak Parno : (terdiam sejenak seperti sedang
berpikir)
Saya bingung mikirin
adik saya yang punya kios counter di pinggir jalan itu, Mbok.
Mbok
Iyem : Lho, kenapa bingung? Adikmu tidak
apa-apa, tho? Dia sehat-sehat saja, tho?
Pak
Parno : Iya, Mbok. Adik saya sehat.
Tapi sekarang dia lagi bingung karena kios-kios yang ada di sepanjang pinggir
jalan katanya akan digusur.
Mbok
Iyem : (setengah kaget dan tidak sadar langsung
membanting sapu yang dia pegang)
Apa?! Digusur? Kok bisa?
Terus nanti anak saya retno mau jualan dimana? Anak saya juga berjualan bunga
di sana. Lha, terus bagaimana nasib anak saya? (seperti orang bingung dan
hampir menangis)
Pak Parno : (semakin tambah
bingung karena melihat mbok Iyem yang hendak menangis)
Lho, Mbok. Jangan menangis! Nanti saya malah tambah
pusing gimana, Mbok? Nanti kalau ndoro majikan datang gimana? Atau mas ahmad
ajudan ndoro majikan tiba-tiba masuk gimana?
Kamis, 26 Januari 2012
Sepucuk Surat Motivasi Untuk Sahabat
Dalam Sebuah Mimpi Menjadi Seorang Guru
Sahabat,
Meraih mimpi, harapan, dan cita-cita memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan, semangat yang tinggi, serta tak kenal putu asa.
Segala usaha yang kau lakukan tak akan pernah sia-sia. Asalkan kau melakukannya dengan penuh harapan untuk meraih mimpi-mimpimu.
Namun, ketika kau merasa hampa menghadapi hari-hari yang lewat begitu saja, janganlah langsung merasa putus asa dan tak mau berusaha.
Sahabatku yang mempunyai mimpi mulia,
Ketika kau masuk ke pintu-pintu sekolah memberikan sepenggal surat demi sebuah mimpi yang mulia, namun kau tak temukan hasil apa-apa, jangan kau langsung menghentikan mimpi-mimpimu. Teruslah kejar mimpi itu sampai kau mampu meraihnya suatu saat nanti. Percayalah bahwa pada akhirnya mimpi itu akan terwujud.
Pekerjaan demi pekerjaan kau lakukan demi mengisi kehampaan. Namun, lagi-lagi kau tersungkur dalam hal yang menjauhkanmu dari minpi-mimpimu. Lalu kau putus asa dan kembali hidup dalam kehampaan.
Sahabatku,
Janganlah kau terus hidup dengan merasakan kehampaan. Mulailah hidupmu dengan sesuatu yang baru. Ciptakanlah hal-hal baru yang akan menjadikanmu lebih semangat tanpa harus menghilangkan mimpi-mimpimu.
Pernahkah kau merasakan ketenangan setelah berbagi cerita hidup dengan orang lain?
Nah, cobalah untuk menuangkan perasaanmu dalam sebuah kata-kata. Torehkanlah mimpi-mimpimu melalui tinta yang akan menjadikanmu lebih semangat menjalani masa-masa kritismu menghadapi kehampaan.
Tumpahkanlah segala rasa yang membebani hidupmu melaui goresan-goresan penamu. Biarkanlah penamu menari-nari bersama jari-jarimu yang indah. Maka kau akan temukan hal baru yang akan memotivasimu untuk bergerak kembali.
Ketika kau telah merampungkan sebuah karya melalui tinta indahmu, jangan kau sembunyikan dalam laci dan membiarkannya begitu saja. Tunjukkanlah pada orang lain, dan jangan merasa bahwa karyamu tak layak untuk dibaca teman-temanmu.
Sahabatku,
Menghasilkan suatu karya yang indah dan membaginya kepada orang lain adalah hal yang menakjubkan. Tanggapan-tanggapan orang akan menjadikanmu lebih termotivasi untuk selalu memperbaikinya. Jangan kau tersinggung dengan tanggapan pedas, karena itu adalah boomerang yang akan menjadikanmu lebih berani menghadapi hidup. Dengan boomerang itulah kau akan mampu menghasilkan karya-karya baru yang lebih indah dan bermanfaat.
Bermanfaat?? Ya, segala yang kau tulis pasti akan bermanfaat untuk orang lain. Bahkan tulisan-tulisanmu bisa dimanfaatkan oleh anak-anak atau remaja yang masih sekolah. Hal itu akan memicumu untuk terus menulis sesuatu yang mendidik dan dapat dimanfaatkan anak-anak sekolah.
Sahabatku,
Melalui goresan-goresan penamu yang bermanfaat itulah, sebenarnya kau sedang berbagi ilmu dengan orang lain. Sedangkan mimpimu menjadi seorang guru, sebagian mulai terwujud. Karena pada dasarnya, guru adalah orang yang sejatinya selalu membagikan ilmunya tanpa pamrih, orang yang mampu memberikan hal-hal bermanfaat, orang yang mampu memberikan motivasi, dan orang yang mampu menghasilkan sebuah karya yang bisa menjadi referensi untuk orang lain.
Sahabatku yang masih menyimpan mimpinya.....
Lakukanlah yang terbaik untuk hidupmu, jangan terus hidup dengan rasa kehampaan yang akan menjadikanmu seorang pemimpi yang semu.
Kudus, 27 Januari 2012
NAJWA ASSHOFA
Harapan Sang Petani
Kelokan tanah, jadi sobat
Tertampak cangkul , telah berkarat
Kala surya mulai mendekat
Kepala serasa pekat,
Haus terasa menyekat
Yang tersisa hanyalah keringat
Dia...
Begitu tabah menyikapi
Seakan awak tiada terbebani
Meski...
Isak tangis tak jua tertanggulangi
Tetapi...
Dia tampak riang hati
Jikalau indra mata memandangi,
Padi berseri di senja hari
Semilir angin membuatnya menari-nari
Begitu indah menyenangkan hati
Dalam hati,
Hanya sebersit hasratnya
Yang tak sekadar harapan dan mimpinya
“meraih hasil tiada merugi”
Oh, Tuhan....
Dengarkanlah dia
Do’a petani untuk kehidupannya
Kudus, 27 Januari 2010
Karya : N. Azizah Af.
Kelas : X-4 MA Nahdlatul Muslimin
Langganan:
Postingan (Atom)